Kamis, 01 Agustus 2013

Tentang Mereka yang Introvert


Pernah kenal dengan seseorang yang suka menyendiri, pendiem, dan cenderung tertutup? Yang kadang tidak menanggapi kalo diajak ngobrol? Nggak nyambung malah kalo ngobrol sama dia. hihihi....

Mungkin dia adalah seorang Introvert.

Pernah dengar tentang istilah kepribadian introvert? Pernah donk ya....

Sebagian besar mengasumsikan kepribadian Introvert sebagai pribadi yang anti-sosial, pendiam, tertutup, pemalu, penyendiri, kuper bahkan aneh.

Benarkah begitu?

Oke, Introvert apa sih?

Menurut Carl Jung nih ya,
  
"Introversion and extroversion refer to the direction of psychic energy. If a person’s psychic energy usually flows outwards then he or she is an extrovert, while if the energy usually flows inwards, the person is an introvert. Extroverts feel an increase of perceived energy when interacting with a large group of people, but a decrease of energy when left alone. Conversely, introverts feel an increase of energy when alone, but a decrease of energy when surrounded by a large group of people."

Sedang menurut Isabel Briggs Myers,

"An introvert derives energy from his or her internal world of emotions and ideas, while an extrovert draws from the outside world of people and activities for spiritual sustenance."

Jelas kan bedanya?

Introvert beda dengan pemalu. Pemalu adalah seorang yang cemas, takut atau menampik diri dari lingkungan sosial. Introvert tidak mesti begitu. Bagi seorang introvert bersosialisasi itu menghabiskan energi. Mereka kelelahan jika terus-terusan bersama orang lain dalam waktu yang lama. Karena itu mereka perlu waktu menyendiri untuk mengisi energi kembali. Ibaratnya seperti mencarge hp gitulah. Sementara bagi seorang Ekstrovert, mencarge energi mereka justru dengan bersosialisasi. Ekstrovert nggak tahan lama-lama sendirian. Kebutuhan akan adanya orang lain bagi Ekstrovert sangat besar. Nggak gaul nggak eksis bok!

Mengapa Introvert suka menyendiri?

Introvert lebih memperhatikan dunia di dalam pikiran mereka sendiri, mereka menikmati berfikir, mengeksplorasi pikiran dan perasaan sendiri. Seorang introvert tidak berarti mereka tidak memiliki kemampuan bicara, akan tetapi mereka lebih suka bicara mengenai masalah ide dan konsep, bukan mengenai pendapat mereka tentang topik-topik sosial yang tidak penting (mungkin seperti guyonan-guyonan yang tidak penting).

Introvert ngak suka basa-basi. Bagi mereka pembicaraan dilakukan untuk memperoleh informasi. Selebihnya mereka lebih suka diem, mendengarkan dan mengamati. Oh yes, mereka pengamat yang baik.

Bukan berarti mereka nggak doyan ngbrol. Doyan kok. Cuma kalo ngobrol dengan orang-orang ini suka agak stres sendiri. Kenapa? Karena mereka doyan berfilosofi dan demen berteori. Reaksi umum begitu dengerin mereka ngomong adalah " ini orang ngomong apa sih?" atau bengong karena nggak ngerti.

Karena lebih suka berfikir ke dalam, Introvert cenderung teguh pada pendirian dan tidak mudah terpengaruh. Juga males mempengaruhi orang lain. Orang mau kompetisi silahkan, dikompor-komporin nggak ngaruh, dikucilin temen nggak masalah. Lempeng-lempeng aja.
Karena orientasinya ya dirinya sendiri. Jadi kalo masih ambisius, ingin mengungguli orang lain, gampang kebakar sama tingkah laku orang lain. Itu bukan introvert.

Ciri lainnya?

Suka memendam masalahnya sendiri, jarang berbagi masalahnya atau menceritakan kehidupannya ke orang lain. Mempunyai self-blaming yang gede (suka nyalahin diri sendiri), yang akhirnya jadi depresi, dan emosian. Tipe ini cuma mau terbuka dengan orang yang sudah bener-bener dipercaya.

Ketika mereka kadang-kadang gagal dalam sesuatu lalu orang di sekeliling bereaksi "hebat", reaksi balik mereka biasanya dengan mudah dilabeli sebagi tindakan "ngambek", "kekanak-kanakan", atau yang paling parah anti-sosial. Faktanya, mereka cuma ingin sendirian dulu. Reaksi “hebat” dari orang lain yang merasa diri “normal” seringkali malah membuat pribadi berintroversi tinggi menjadi lebih tersiksa, terstimulasi untuk berlaku ganjil dan mungkin jadi lebih disalahpahami oleh dunia luarnya.

Berapa banyak sih orang Introvert di dunia?

Ternyata dikit lho. Menurut Jonathan Rauch dalam artikelnya di The Atlantic Monthly,

"Jawabannya: 25 persen, atau di bawah setengah populasi. Atau, jawaban favorit saya: kelompok minoritas di antara kebanyakan orang, tapi mayoritas di antara populasi orang-orang berbakat."

Orang-orang dengan jumlah minoritas ini ternyata sering disalahpahami, tersisih dan dianggap sombong, jutek, kuper bahkan aneh.

Dunia menganggap Ekstrovert adalah orang yang ramah, hangat, terbuka, banyak temennya, flexible dan calon orang sukses. Mereka adalah kelompok mayoritas. Hingga terciptalah standar yang menilai bahwa yang normal itu Ekstrovert dan Introvert itu kuper, nggak gaul, sejenis gangguan mental, kelainan dan janggal. Orang aneh deh pokoknya hmmm....

Padahal enggak kok....

Kesalahpahaman ini menurut Jonathan Rauch lantaran karakter introvert yang lebih cerdas,lebih reflektif, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan sensitif dibandingkan ekstrovert. Mungkin juga karena sedikitnya kaum introvert berbicara, suatu kelemahan yang kerap dicela oleh mereka yang ekstrovert. Kami cenderung berpikir lebih dulu sebelum berbicara, sementara ekstrovert berpikir ketika berbicara.

Jadi?

Jelas Introvert bukan penyakit atau kelainan yang harus disembuhkan. Pahami bahwa itu adalah orientasi kepribadian dan cenderung tak bisa diubah. Tak ada yang salah dengan Introvert.

Memang sih, punya temen yang ramah, hangat, mudah diajak hang-out, easy going dan selalu kelihatan rame itu menyenangkan. Namun beberapa orang memang tercetak dengan orientasi kepribadian yang berbeda. Tapi bukan berarti aneh.

Mari memahami dan mencoba berteman dengan mereka :D


Artikel ini direpost dari sini

Kamis, 04 Juli 2013

Cinemagraph, Bukan Sekedar Foto Biasa Tapi Bukan Video

Cinemagraph adalah sebuah foto dengan elemen kecil gerakan di dalamnya, mempertahankan semua ketenangan indah yang ada dalam foto tetapi menambahkan sedikit gerakan yang mempesona. Teknik cinemagraph lebih dari sekedar gambar atau foto, tapi bukan video.  Foto yang di-publish biasanya dalam bentuk GIF.

Cinemagraph adalah buah karya fotografer Jamie Beck dan Kevin Burg, yang saat itu memiliki ide untuk menggabungkan antara foto dan video. Tujuannya utama adalah memberikan sebuah cerita pendek pada sebuah gambar atau foto.  Contohnya kaya ini nih......

Keren? Ini gue dapet dari sini
Ada lagi nih! Gue posting lagi nih. Oh iya sumbernya dari sini


KEREN KAN????

Jumat, 28 Juni 2013

When haters were busy talking, I was busy making it happen

When haters were busy talking, I was busy making it happen. When they were busy mocking, I was busy walking. When they were busy laughing I was busy running and they’re STILL wondering why they’re left behind. - Agnes Monica

Rabu, 10 April 2013

You're Special Too, Stop Comparing Yourself to Others!


Enjoy your own life without comparing it with that of another. - Marquis de Condorcet
Terkadang kita sering tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki atau yang sudah kita capai. Kita selalu ingin lebih, lebih, dan lebih. Selain ingin lebih. Kita juga sering kali tidak puas dengan diri sendiri dan selalu berusaha dan berharap menjadi orang lain, yang menurut kita “lebih” dari kita. Kita membandingkan dengan yang lain, membandingkan apa yang kita punya dan apa yang tidak.

Padahal, apakah dengan membandingkan kelebihan/ apa yang mereka punya dengan kekurangan/ apa yang kita tidak punya, we’d size up or it’d make us feel good? Nope! It’s a sure-fire recipe for a drop in self-confidence and for unhappiness. Lalu bagaimana kalau kita mulai membandingkan dan iri dengan yang lain?

Break that habit and try to be aware of when you start comparing yourself to others … once you’ve developed this awareness, try this trick: stop yourself. Tell yourself, “Stop that!” And then start thinking about all the things you DO have, the things you love, the people you have, the blessings that life has given you. Make this a regular practice, and you’ll start to be happier with your life.

Di bawah ini ada beberapa tips yang berguna saat kita mulai membandingkan dan iri dengan yang lain, semoga bermanfaat :)
  • Awareness. Kebanyakan dari kita melakukan perbandingan sosial tanpa menyadari kita sedang melakukannya. Itu wajar saya kira. So the solution is to become conscious — bring these thoughts to the forefront of your consciousness by being on the lookout for them. If you focus on these thoughts for a few days, it gets much easier with practice, and soon it’ll be hard not to notice.
  • Stop yourself. Jika kamu sudah sadar sedang melakukan perbandingan ini, give yourself a pause. Don’t berate yourself or feel bad — just acknowledge the thought, and gently change focus.
  • Count your blessings. A better focus is on what you do have, on what you are already blessed with. Hitung apa yang kamu miliki BUKAN yang tidak! Think about how lucky you are to have what you have, to have the people in your life who care about you, to be alive at all.
  • Focus on your strengths. Daripada melihat kelemahanmu, lebih baik tanyakan pada dirimu apa kekuatanmu. Celebrate them! Be proud of them. Don’t brag, but feel good about them and work on using them to your best advantage.
  • Be OK with imperfection. Tak ada yang sempurna di dunia ini, kita semua tahu itu, but emotionally we seem to feel bad when we don’t reach perfection. You aren’t perfect and you never will be. I certainly am not, and I’ve learned to be OK with that. Sure, keep trying to improve, but don’t think you’ll ever be the “perfect person”. If you look at it in a different way, that imperfection is what makes you who you are, you already are perfect.
  • Don’t knock others down. Kadang kita mencoba mengkritik orang lain untuk membuat kita terlihat atau merasa lebih baik. Membuat seseorang down demi keuntunganmu adalah destruktif. It forms an enemy when you could be forming a friend. In the end, that hurts you as well. Instead, try to support others in their success — that will lead to more success on your part.
  • Focus on the journey. Don’t focus on how you rank in comparison to others — Hidup bukanlah kompetisi. It’s a journey. We are all on a journey, to find something, to become something, to learn, to create. That journey has nothing to do with how well other people are doing, or what they have. It has everything to do with what we want to do, and where we want to go. That’s all you need to worry about.
  • Learn to love enough. Jika kamu selalu ingin apa yang orang lain miliki, kamu tidak akan pernah merasa puas. That’s an endless cycle, dan tidak akan membawa kebahagiaan. Tidak peduli berapa banyak baju yang kamu beli, tidak peduli berapa banyak rumah yang kamu miliki, tidak peduli berapa banyak mobil mewah yang kamu dapat… Kamu tidak akan pernah merasa cukup. Sebaiknya belajarlah untuk menyadari bahwa apa yang kamu miliki itu sudah cukup. If you have shelter over your head, food on the table, clothes on your back, and people who love you, you are blessed. You have enough. Anything you have over and above that is more than enough. Be good with that, and you’ll find contentment.
To love is to stop comparing. - Bernard Grasset

Minggu, 31 Maret 2013

Where Will You Be Five Years From Today?


5 Years.
260 weeks.
1,825 days.
2,333,000 minutes.
It’s your time.
It’s your life.
What will you do with it?
What could you do with it?
In 5 years …
Christopher Columbus discovered a new world.
Michelangelo completed the Sistine Chapel.
Dian Fossey saved the lives of hundreds of mountain gorillas.
What about you?
This is your one and only life.
And you don’t want to miss it.
When was the last time you did something for the first time?
Go where you’ve never been.
What are you passionate about?
FOLLOW YOUR DREAMS — they know the way.
What will you do with your talents?
Make the world better?
You can.
Live your life on purpose.
Get involved.
Get inspired.
Make every moment count.
The next 5 years can be the very best 5 years of your life!
or just another 5 years.
What is life for?
It is for you.
Where will you be 5 years from today?